Syahid Kecil
April 29th, 2005 by haerumanalbanjariBetapa banyak dari kita selaku insan beriman yang mengharapkan “kesudahan yang baik” (khusnul khatimah) dalam akhir khayat kita. Bahkan kita sangat mengharapkan bisa gugur sebagai syuhada, mengakhiri segala tipu daya dunia yang fana menuju kehidupan hakiki yang penuh dengan kenikmatan Illahi.
Tapi….
Seberapa besar usaha kita untuk mencapainya???
Sudahkah kita melakukan “jual beli” dengan Allah sebagaimana para pendahulu2 kita yang berani mempertaruhkan harta bahkan jiwa demi tegaknya Islam di Bumi Allah ini???
dan sebagaimana saudara2 kita di palestina yang sampai saat ini berjuang keras untuk mempertahankan bumi para An Biya???
Simaklah…
kisah tentang Syahid kecil yang baru berumur 11 tahun ini…
Mu’taz Nafidz Husein Al-Syarafi
Syahid kecil, Mu’taz Nafidz Husein Al-Syarafi dilahirkan di kota Gaza tanggal 02 Oktober 1993. Terbina oleh keluarga mulia yang dikenal dengan pengabdiannya kepada bangsa dan ta’at beragama. Sebuah keluarga Palestina yang dipaksa mengungsi pihak penjajah Israel tahun 1948 seperti keluarga Palestina lainnya keluara dari tanah kelahirannya di daerah Harbea. Kelaurga Mu’taz, syahid kecil ini, terdiri dari ibu, dr. Su’ad Audah dan empat saudara. Ayahnya meninggal dunia pada tahun 1997, dan Mu’taz sendiri anak nomer tiga. Ketika syahid, ia duduk di kelas enam Sekolah Dasar Abu Husein. Ia termasuk anak yang sering mendapatkan ranking kelas, dikenal akan keberaniaannya dan kecerdasannya yang brilian. Mu’taz kecil sudah dibina sejak kecil untuk mengikuti shalat berjama’ah di masjid, terutama shalat fajar (subuh). Maka ia tergolong sebagai jama’ah tepat masjid Khalid bin Walid.
Cintanya Kepada Jihad dan Syahid
Syahid kecil kita ini, Mutaz, dikenal orang karena keberaniannya dan pantang mundur. Saat sering mendengar berita orang gugur syahid atau mendengar aksi pembantaian yang dilakukan penjajah Israel, sering ia mengomentari dengan mengatakan:”Saya akan membalas darah para syuhada’ dan aku siap mati sebagai syahid.” Sehari sebelum ia terluka, yang menyebabkan kesyahidannya, bersama teman-teman sepermainannya di kampung, dan ini kebiasaan anak-anak Palestina, memperagakan jenazah syahid. Ketika itu, Mu’taz memerankan sebagai seorang syahid yang terluka tembak di bagian kepalanya. Hari berikutnya, cita-citanya itu terbukti dan ia terluka berat di bagian kepala saat serangan ‘banci’ serdadu Israel ke mobil milik mujahidin Saraya Al-Quds.
Hari Kesyahidannya
Malam hari, Sabtu, 8 Muharram 1425H, atau bertepatan dengan tanggal 28/02/2004, Mu’taz saat itu bermain disamping rumahnya ketika pesawat-pesawat tempur Israel jenis F-16 menyerbu daerah al-Saftawi. Penyerbuan itu mentargetkan para pejuang Saraya Al-Quds, sayap militer Jihad Islami. Mobil yang dijadikan sasaran berhasil ditembak dan terbakar akibat ledakan rudal, tubuh suci para mujahidin tampak berserakan dimana-mana. Saat serangan membabi-buta ini, Mu’taz terluka serius dan kemudian dilarikan ke rumah sakit yang ada di dalam wilayah Palestina ‘48. Dan pada siang hari Jum’at (14/01/1425H atau bertepatan tanggal 05/03/2004) asy syahid Mu’taz menghembuskan nafas terakhirnya sebagai syahid menyusul para pendahulunya.
Adakah jiwa Mu’taz dalam diri kita???
Semoga akan terlahir… ribuan atau bahkan jutaan Mu’taz baru yang siap memperjuangkan Agama yang Mulia ini…
Allahu Akbar!!!!